Jelajah Mangkunegara, Solo

2017_0408_09522000Cinta, dan loyalitas. Legiun baru tanah Jawa – Mangkunegara

Whops, kali ini saya menyempatkan untuk menulis jejak perjalanan langkah kaki saya di salah satu pusat peradaban Jawa, yakni Surakarta. Keinginan sayapun terpenuhi untuk menapakkan kaki di Kota ini beberapa waktu lalu. Dua hari saya habiskan untuk menjelajah sudut sudut Kota Solo dan kali ini saya akan mengulas pergolakan batin saya di Puro Mangkunegaran Surakarta.

Udara Solo yang sangat panas tak lantas membuat surut niatan saya untuk berjalan dari Hotel menuju Kompleks Puro Mangkunegaran. Berbekal insting dan realita lapangan akhirnya saya memilih jalan singkat untuk mengakses Puro Mangkunegaran melalui pintu samping Pemedan Timur (tepatnya disebelah gedung Kavallerie Artillerie) yang langsung terhubung dengan kompleks dalam Puro. Karena saya seorang tamu yang menenteng-nenteng sebuah kamera mirrorless usang maka saya memutar arah untuk masuk ke loket pembelian tiket. Setelah membayar dan mengisi buku tamu, saya kemudian diberitahu bahwa walaupun saya wisatawan single – emang jomblo :’), saya akan dipandu oleh seorang pemandu wisata dalam berkeliling kompleks dalam. Dan ternyata pemandu wisatanya adalah seorang GADIS SMK, CANTIK, IMUT, PUTIH, MULUS, SOPAN – berasa dapat rezeki gitu :’).

Namanya Ellen (saya gatau spelling namanya bener atau salah). Akhirnya saya diajak berkeliling kedalam Puro Magkunegaran. Memasuki Pendopo si mbak menjelaskan bahwa ini adalah pendopo terbesar se Asia yang dalam pembangunannya menggunakan bahan baku yang spesial seperti tiang soko guru yang diambil dari satu batang pohon besar, patung singa yang terbuat dari perunggu asli, beberapa patung bergaya indische-france sangat terihat mencolok begitu juga dengan lampu gantung yang terlihat megah dan mewah.

 

DSC01041
Komplek Pendopo

Setelah saya masuk ke area Ndalem Ageng (disini tidak diperkenankan memotret), saya diperkenalkan dengan berbagai koleksi benda bersejarah milik museum Puro Mangkunegara yang dipajang didalam etalase kaca. Mulai benda-benda perlengkapan menari, alat memasak, pusaka kerajaan, perhiasan, hingga alat pengaman kelamin yang disebut dengan badongBadong lebih tepatnya celana dalam antiselingkuh, terdiri dari pengaman kelamin pria dan wanita yang biasanya dipasangkan kepada Adipati sewaktu berburu oleh sang permaisuri dan sebaliknya, badong sendiri dilengkapi dengan mantra pengunci dan hanya dapat dibuka oleh sang perapal mantra.

Setelah puas berkeliling saya dipersilahkan menjelajah kompleks taman belakang, yang kemudian terhubung melalui selasar masuk menuju ruang rapat dan ruang makan. Dan berakhir sudah perjalanan mengelilingi kompleks Puro Mangkunegaran.

Dari berbagai sudut pandang akar sejarah yang panjang, kelahiran Puro Mangkunagaran dipenuhi dengan berbagai pergolakan dan tumpahan darah demi mencari sebuah jalan keadilan. Pangeran Sambernyawa atau sang Adipati pertama menaruh harapan besar untuk lepas dari tekanan Belanda, yang pada akhirnya memulai perang takhta Jawa yang memecah kuasa atas tanah Jawa menjadi 3 yakni Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan satu kepangeranan merdeka yakni Kadipaten Mangkunegara. Pengaruh Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I) semasa perjuangan bersama Pangeran Sambernyawa untuk menentang ketidakadilan Belanda tergambar jelas dari hasil maknawi sudut-sudut arsitektur Puro Mangkunegaran. Dalam kondisi dan situasi gejolak Tanah Jawa, Puro Mangkunegaran membara haru biru perubahan tatanan masyarakat Jawa, Mangkunegaran mengajarkan masyarakat untuk berdikari menjadi seorang pribumi yang kuat dengan pola dan tingkah laku yang selalu mengikuti arus perkembangan zaman. Kemajuan teknologi juga dimanfaatkan secara baik oleh penguasa Mangkunegara pada zamannya untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat diantaranya dengan membangun Stasiun Kereta SoloBalapan, Pabrik Gula Colomadu, dan lain sebagainya. Semua itu adalah berkat semangat yang tak pernah padam dari dalam Ndalem Ageng Puro Mangkunegaran Surakarta Hadiningrat untuk kesejahteraan Pulau Jawa.

Untuk mbak Ellen, terimakasih sudah mengajak jalan-jalan keliling dan berbagi pengetahuan seputar Puro Mangkunegaran, dan terimakasih telah mengamankan penutup lensa kamera yang sempat ketinggalan didalam kantong plastik kala itu. Semoga senantiasa diberkahi Tuhan dalam setiap langkah Mbak Ellen, semoga kita kembali berjumpa dilain kesempatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s